Senin, 09 November 2009

makalah filsafat

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada allah SWT.yang mana atas berkat rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”FILSAFAT EMPIRISME” ini dengan baik meskipun masih jauh dari sempurna.

Sholawat beserta salam tak lupa pula penulis haturkan kepada junjungan kita nabi agung nabi Muhammad Saw yang telah membawa kita semua dari alam kejahilan ke alam yang terang benderang yang di sinari oleh ilmu pengetahuan ,iman dan islam.

Penulis tak lupa pula mrengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini. penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “FILSAFAT EMPIRISME” ini.

Penulis sadar dalam penulisan makalah ini,masih banyak kekurangan, .untuk itu,penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.

Bangko, 10 November 2009

Penulis

Kelompok 3


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................

Daftar isi.................................................................................. .....................

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................

BAB III PENUTUP........................................................................ ...........

  1. Kesimpulan......................................................................... ...........
  2. Saran ...............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

Pengetahuan umum adalah suatu pengethuan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan majemu maupun yang sama. Sasaran pengenalan manusai adalah gagasan semata mata. Di mana pengenalan manusia adalah pengenalan tentang gagasan gagasan atau ide ide . gagasan gagasan atau ide ide yang akan di bahas dalam malakah ini di ungkap kan oleh seorang tokoh yaitu Jhon lock yang menjelaskan tentang filsafat empirisme.

Filsafat empirisme ini berpendapat bahwa anak yang lahir di dunia ini bagaikan kertas kosong atau sebagi meja berlapis ilin yang belum ada tulisan di atasnya. Sehingga filsafat ini di sebut juga aliran tabula rasa.

Menurut teori ini kepribadian di dasarkan pada lingkungan pendidikan yang di dapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata mata bergantung kepada pendidikan.. dunia luar pada umumnya di sebut lingkungan, baik lingkungan hidup maupun lingkungan mati.

Pada kesempatan ini akan mebicarakan penganut empirisme tentang memperoleh pengetahuan. Ad vbanyak jenis empirisme namun pada hakikatnya semua pengetahuan pengalaman individu dalam memperoleh pengetahuan.


BAB II

PEMBAHASAN

Filsafat empirisme

Kata empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Tokoh aliran ini adalah jhon lock (seorang filosof bangsa inggris). Ia berpendapat bahwa anak yang lahir ke dunia ini bagaikan kertas kosong atai sebagai meje berlapis lilin (tabula rasa) kertas yang kososng atau meja berlapislilin itu dapat di tulis sekehendak hati oleh penulisnya[1].

Realitas adalah tabula rasa bagaikan kertas putih yang dapat di isikan dengan banyak pengalaman[2]. Semakin banyak pengalaman tentang suatu hal, semakin banyak pula kebenaran objektif yang di dapat oleh sustu hal tersebut. Kebenaran terbentuk oleh pengalaman yang di tentukan oleh situsi dan kondisi tertentu. Karena itu ia bersifat objektif empiris, berubah ubah sesuai dengan kondisi tertentu kemampuan secara rasio hanya dapat di ketahui secara abstrak, umum dan bersifat tetap.pengalaman indra lah yang mampu mengenali yang kongrit. Yang satu persatu dan selalu berubah ubah ini.

Menurt teori ini bahwa kepribadian di dasarkan kepada lingkungan pendidikan yang di dapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata mata bergantung kepada pendidikan, dunia luar pada umumnya disebut sebagai lingkungan. Baik lingkungan hidup maupun lingkungan mati. Lingkungan hidup seperti hewan, mnusia, maupun tanaman. Sedangkan lingkungan mati meliputi benda benda mati. Dan setiap lingkungan mempunyai situasi tersendiri. Ada situasi ekonomi sosial, kebudayaan, keagamaan.dan pendidikan dengan segala aktiftasnya merupakan salah satu lingkungan anak didik juga. Menurut teori empirisme pendidik dapat berbuat sekehendak hati dalam mambentuk pribadi anak didik sesuai yang di inginkan. Pendidik dapat berkehendak hatinya seperti pemahat patung kayu atau patung kayu atau dari bahan lainya sesuai dengan keinginan pemahat tersebut.

Pemikiran empirisme Jhon lock adalah merupakan sintesa rasionalisme Rene Descrates dengan empirisme Thomas Hobes.walaupun Lock menggabungkan beberapa pemikiran descrates, namun ia menentang ajaran ajaran pokok Descrates. Ia memotong teori teori mengenai ide ide dan asas asas yang pertama di pandang manusia sebagai bawaan manusia[3]. Menurut Lock segal pengetahuan berdasarkan dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Akal atau rasio bersifat pasif pada waktu pengetahuan itu di dapatkan. Namun di perolehnya dari luar melalui indrawi[4]. Semula akal merupakan secarik kertas putih dan bersih”as a whith paper” tanpa tulisan dan seluruh isinya berasal dari pengalaman indrawi manusia[5].

Di sampik tokoh tersebut di atas terdapat juga ahli pendidikan yang lain dan mempunyai pandangan yang hampis sama dengan paddangan Jhon lock, yaitu Helvatus,(seorang ahli filsafat yunani) berpendapat bahwa manusia di lahirkan dengan jiwa dan watak yang hampir sama yaitu suci dan bersih, lingkungan dan pendidikan lah yang membuat manusia berbeda beda. Demikian ula seorang pemikir zaman Aufklarung bernama Klaude andrien helvetiur (1715 – 1771) telah merumuskan jawaban dan pertnyaan bagaimana dapat terjadi agar manusia luaar itu dapat menjadi manusia yang kuat dan terampil, beradap serta kaya akan ilmu pengetahuan dan gagasan gagasan? Ketika itu seolah-olah manusia berkelas-kelas. Di satu pihak dididik sebagai pemburu dan lain pihak memperoleh didikan sosial dan macam-macam didikan. Mareka membangkitkan kepercayaan bahwa lingkungan dan pendidikan dapat membentuk manusia kearh mana saja yang dikehendaki pendidik.

Keadaan diatas memang ada kebenarannya, karena lingkungan dan pendidkan relatif dapat diukur dan dikuasai manusia dan keduanya memegang peranan utama dalam menentukan perkembangan kepribadian manusia.

Dan yang termasuk aliran ini adalah aliran progresivisme yang bersifat elusionistis dan percaya pada kemampuan-kamampuan manusia untuk mengadakan perubaha-perubahan.

Lock tidak mambedakan antara pengetahuan inderawi dan akal. Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan-gagasan atau ide-ide, yang timbulnya karena pengalaman ilmiah lahiriah(sensation) dan pengalaman batinlah (reflection) yang berada dalam prikis manusia. Gagasan-gagasan di bedakan atas gagasan tunggal(simple ideas) dan gagasan majemuk(complex ideas). Gagasan tunggal datang langsung dari pengalaman, tanpa pengolahan logis apapun, adapun gagasan majemuk timbuldari percampuran atau penggabungan gagasan-gagasan tunggal.jikalau beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri, subjek mananggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk satu hal yang sama, yang berdiri sendiri yang disebut substansi.selain dari substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertiantentang keadaan atau modi tentang hubungan-hubungan. Tugas roh manusia terbatas pada memberi sebutan kepada gagasan-gagasan tunggal tadi, menggabung-gabungkannya, merangkum kannya dan menjadikannya bersifat umum. Dari gagasan-gagasan itu lah timbul isi pengetahuan kita yang bermacam-macam sekali. Pengetehuan umum adalah suatu sebutan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan majemuk dari rumpun yang sama. Jadi bahasa yang tersusun atas kata-kata berfungsi sebagai tanda bagi suatu isi kesadaran manusia.

Sasaran pengenalan manusia adalah gagasan semata mata. Pengenalan manusia dalah pengenalan tentang gagasan gagasan atau ide ide yaitu kesan kesn yang di miliki subjek yang mengenal. Gagasan gagasan tunggal dari pengalaman batiniyah adalah objektif. Gagasan gagasan itu kita kenal dalam kesadarang seperti yang sebenarnya. Segala gejala fidikis yang si saksikan oleh kesadaran kita tampil sebagai kenyataan bagi manusia. Gagasan tunggal dari pengalaman ahiriyah segalanya adalah benar sejauh gagasan itu di sebabkan oleh realita yang ada di luar subjek serta menghadirkan relitas itu di dalam kehidupan kita. Pengamatan tentang dua gagasan tunggal yang ada atau tidak ada persesuaian di nyatakan di dalam suatu putusan.apakah gagasan yang ada satu ada persesuaian dengan gagasan yang lain dapat muncul dalam beberapa bentuk antara lain :

a. dalam bentuk identitas atau perbedaan.

b. Dalam bentuk hubungan .

c. Dalam bentuk konsistensi atai berada bersamasama.

d. Dalam bentuk kenyataan.

Bagaimana bentuk nya gagasan-gagasan itu senantiasa berhubungan dengan yang lain dalam satu putusan. Ada putusan yang hanya mengenai pengetahuan tentang gagasan-gagasan kita(ilmu pasti, etika). Ada putusan yang mengeni gagasan-gagasan tunggal dan kesesuaiannya dengan kenyataan diluar kita(misalnya mengenai sifat primer dan sekunder) dan ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan kompleks dan kesesuaiannya dengan kenyataan (dalam hal ini khususnya timbul soal yang mengenai substansi).segala putusan terjadi di kawasan roh.putusan yang benar di peroleh karena pengenalan intuitif. Segala putusan dan kejelasan dalam pengetahuan berdasarkan intuisi, pembuktian kurang memberi kepastin dibanding dengan intuisi[6].

Empirisme john locke lebih memiliki sifat analitis dibanding dengan thomas hobbes, sehingga dalam hubungannya dengan pemikiran filsafat analitika bahasa empirisme locke banyak memberikan sumbangan terutama dasar fakta-fakta empiris beserta bentuk susunan gagasan-gagasan. Dalam konsep filsafat analitika bahasa dikenal konep proposisielementer serta proposisi kompleks yang melukiskan fakta yang kompleks pula hal ini sesuai dengan konsep locke tentang ide-ide yang sederhana dan ide-ide yang kompleks. Jastifikasi pengetahuan empiris juga memiliki kesamaan dengan jastifikasi proposisi menurut konsep analitika bahasa yaitu keduanya bukan hanya sampai pada klarifikasi melainkan sampai pada putusan. Namun perbedaannya bahwa locke tidak menentukan susunan gagasan-gagasan atau ide-ide itu berdasarkan pada sistim logika seperti yang dilakukan oleh atomisma logis maupun positivisme logis.

Dalam kaitannya bahasa isi pengetahun yang timbul dari gagasan-gagasan manusia diungkapkan melalui bahasa. Adapun menurut analitik yang diungkapkan melalui bahasa adalah fakta, yang tersusun atas prinsip-prinsip logika sehingga menentukan bermakna atau tidaknya ungkapan tersebut.

Seorang penganut empirisme biasanya berpendirian bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan dari pengalaman[7]. Sifat yang menonjol dari jawabn ini dapat dilihat apabila kita melihat pertanyaan seperti” bagaimanakah orang mengetahui es membeku?”, atau ” karena seorang ilmuan telah melihatnya demikian.” sama hal nya dengan itu, terhadap pertanyaan ”bagaimana caesar telah di bunuh?”, maka jawaban kita akan berbunyi, ”karena seseorang yang ada di tempat itu dan melihat kejadian tersebut, telah menerangkannya demikian.” secara demikian dapat di bedakan du macam unsur :’ yang mengetahui’ dan’ yang di ketahui’. Orang yang mengetahui merupakan subjek yang memperoleh pengetahuan dan di kenal dengan suatu perkataan yang menunjukan seseorang atau suatu kemampuan.

Unsur ketiga yang dapat kita bedakan dalam jawaban terhadap pertanyaan” bagaimana orang mengetahui bahwa es itu membeku?” ialah keadaan kita bersangkutan dengan ’melihat’ atau’mendengar’ atau ’ suatu pengalaman inderawi yang lain. Bagaimanakah kita mengetahui api itu panas? Dengan menyentuh barang sesuatu dan memperoleh pengalaman yang kita sebut ’panas’. Bagaimana kah kita mengetahui apakah panas itu? Dengan mempergunakan alat alat inderawi peraba. Dengan perkataan lain, pertanyaan ”bagaimanakah anda mengetahui atau memeroleh pengetahuan?” di jawab dengan menunjukan pengalaman pengalaman inderawi yang sesuai.

Pengetahuan di peroleh dengan perantaraan indera, kata seorang penganut empirisisme. John locke, bapak empirisme Britania, mengetakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah di catatan pengalaman pengalaman inderawi. Menurut locke, seluruh sisa pengetahuan kita di peroleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide ide yang diperoleh dari penginderaan dan refleksi yang pertama tama dan sederhana tersebut.

Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil hasil pengindraan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat di lacak kembali sampai kepada pengalaman pengalaman inderawi yang pertama pertama tama, yang dapat di ibaratkan sebagai atom atom yang menyusun objek objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau stidak tidaknya bukan lah pengetahuan hal hal yang faktual.

Empirisme radikal, mereka yang berpndirian bahwa semua pengetahuan dapat di lacak sampai kepada pengalaman inderawi.dan apa yang tidak dapat secara demikian itu di anggap bukan pengetahuan, di namakan penganut empirisme radukal. Tetapi tidak semua penganut empirisme menganut sensasionalisme. Di antara mereka ada yang mengetahui sesuatu corak pengentahuan yang tidak dapat di kembalikan pada penghindraan, sekalipun dikatakan pula bahwa hal itu bukanlah menyangkut pengathuan mengenai exsistensi .

Contonya adalah mungkin bagi kita untuk mengetahui tanpa pengalaman sama sekali bahwa satu kertas misalnyaberwarna putih atau tidak berwarna putih, karana kita dapat mengatakan bahwa segala hal merupakan A atau bukan A. Dengan cara yang sama juga dapat mengetahiu tanpa menunjuk pada pengalaman inderawi bahwa suatu segitiga merupakan bidang datar yang berisi tiga, karena demikianlah cara saya mendifinisikan segitiga. Sementara penganut empirisme radikal mengatakan bahwa ketdua contoh tersebut bukan lah pengetahuan, tetapi hanya menerangkan bagaimana kita menggunakan kata kata, di dalam contoh yang pertama di dasarkan keadaan bahwa secarik kertas berwarna putih dan vtidak berwarna putih, kita tidak dapat mengetahui arna yang manakah tang di punyai oleh kertas tersebut. Di dalam contoh mengenai segitiga tadi, kita hanya dapat memberikan nama dan tidak dapat mengetahui apakah suatu segitiga bereksistensi atakah tidak.

Pengalaman tiada lain adalah akibat suatu objek yang merangsang alat i9nderawi, yang secara demikian menimbulkan rangsangan syaraf yang kemudian di teruskan ke otak. Di dalam otak, sumber rangsangan itu tadi di pahami sebagaimana adanya. Atau berdasarkan atas rangsagan tersebut di bentuklah tanggapan tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat inderawi tadi. Menurut penganut empirisme, begitulah pengetahuan terjadi.

Pengalaman merupakan istilah yan bermakna ganda. Tapi apakah yang terjadi bila kita mempunyai suatu pengalaman? Perkataan itu menjadi bermakna ganda jika kita kemudian menanyakannya. Kadang kadang ini berarti bahwa indera kita memperoleh rangsangan, dan kita mengatakan mempunyai suatu pengalaman karena kita telah melihat atau mendengar atau mencicipi, dan sebagainya. Pada waktu yang lain tampaknya pengalaman sebagai hasil pengindraan, di tambah tanggapan. Ada pula makna yang di kandung oleh istilah ”pengalaman” yang tidak perlu di perbincangkan. Misanya bila kita merasa ketakuatan dan mengatakan ”saya benar benar telah mengalamiya”.

Di tinjau dari sudut epistimologi -khususnya dari pandangan empiris –pengalaman kadang kadang menunjuk haya pada hasil penginderaan. Sebab itu, dapat di namakan ’datum indera’. Kedudukan yang bersipat ontologis deari data indera kita ini tidaklah di persoalkan sekarang. Dan hendaknya di ketahui, dalam batas batas tertentu, apa yang telah sayakatakan tadi tidaklah dapat di tarik kesimpulan bahwa dunia tersusun dari data indera tersebut atau bahwa data indera pada hakekatnya bersifat kerohanian (idealisme) atau bahwa data indera itu bersifat kerohanian tetapi menunjuk pada alam semesta yang tidak bersifat kerohanian (realisme), atau suatu yang lain.

saya tidak mengatakan apapun mengenai hakekat sesuatu yang merangsang alat inderawi dan menimbulkan datun indera. Pada kesempatan iti kami membicarangan keterangan penganut empirisme tentang bagaimanakah kita memperoleh pengetahuan. Ada banyak jenis empirisme, tetapi pada hakekatnya semua sama mengutamakan pengalaman inderawi dalam peroses memperoleh pengetahuan.



[1] Drs. Prasetya. 1997. Filsafat pendidikan. Jakarta : pustaka setia. Hal.188 - 189

[2] Suparlan suhartono. 2006. filsafat pendidikan. Jakarta : ar-ruzz media. Hal.44

[3] Drs. Kaelan. 2002. Filsafat bahasa (masalah dan perkembangannya). Yogyakarta : paradigma. Hal.61-64

[4] Hadiwijono, 1983 :36

[5] Bertens, 1989 : 51

[6] Hadiwijono, 1983:36

[7] Louiss.o.kattsoff. pengantar filsafat. Yogyakarta : tiara wacana. Hal 132-135

Tidak ada komentar:

Posting Komentar